Beranda | Artikel
Kehidupan Manusia Lahir dan Batin
14 jam lalu

Kehidupan Manusia Lahir dan Batin adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 27 Safar 1448 H / 13 Agustus 2026 M.

Kajian Islam Tentang Kehidupan Manusia Lahir dan Batin

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ…

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (QS. Al-Anfal[8]: 24)

Ayat ini mengandung makna kehidupan yang hakiki dan kebaikan hidup. Para ulama salaf telah menjelaskan makna kehidupan tersebut. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menambahkan bahwa manusia membutuhkan dua jenis kehidupan secara mendesak. Dengan terpenuhinya kedua kehidupan itu secara sempurna, manusia dapat merasakan manfaat dan kebaikan dalam hidupnya.

Kehidupan Lahiriah

Jenis kehidupan pertama ialah kehidupan badan, tubuh, atau fisik—kehidupan lahiriah. Dengan kehidupan ini, manusia dapat memahami hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, membedakannya dari hal-hal yang mendatangkan mudarat, merusak tubuh, dan menimbulkan penyakit. Jika kehidupan badannya sempurna, ia akan mengutamakan hal-hal yang bermanfaat daripada hal-hal yang mendatangkan kecelakaan dan keburukan.

Apabila kehidupan badan berkurang atau tidak sempurna, misalnya karena sakit, seseorang akan merasakan rasa sakit dan kelemahan sesuai dengan kekurangan dalam kehidupan lahiriahnya. Kehidupan orang yang sedang sakit, sedih, diliputi kegundahan, kekalutan pikiran, rasa takut, kekurangan, dan kehinaan berbeda dari kehidupan orang-orang yang terjaga dari keadaan tersebut.

Orang yang sakit pasti mengalami kehidupan yang tidak sempurna. Ia malas menjalankan aktivitas karena kelemahan yang menimpa tubuhnya. Aktivitas hidupnya pun melemah sesuai dengan kelemahan yang ditimbulkan oleh sakit tersebut. Inilah jenis kehidupan pertama yang dibutuhkan manusia.

Kehidupan Hati dan Roh

Jenis kehidupan kedua ialah kehidupan hati dan jiwa, atau kehidupan roh. Dengan kehidupan ini, manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang batil, antara penyimpangan dan jalan kebaikan, serta antara petunjuk dan kesesatan. Dengan demikian, ia memilih kebenaran dan jalan yang benar, meninggalkan kebatilan, serta mengutamakan jalan yang benar daripada jalan yang batil.

Kehidupan ini berkaitan dengan penjagaan agama. Allah menjaga agama kita, menghindarkan kita dari jalan yang menyimpang, dan menjadikan kita istiqamah di atas jalan yang lurus.

Hidupnya hati, jiwa, dan roh menjadi sebab manusia dapat mengenali dengan jelas jalan kegelapan dan jalan terang, jalan lurus dan jalan menyimpang, serta jalan petunjuk dan jalan kesesatan. Dengan demikian, ia akan memilih jalan kebaikan dan jalan yang lurus.

Kehidupan hati dan jiwa lebih dibutuhkan karena menjadi sebab keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun demikian, kehidupan pertama, yaitu kehidupan anggota badan dan fisik, tetap diperlukan.

Kehidupan hati menentukan kebaikan agama seseorang dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan kehidupan hati, seseorang akan memilih kebenaran daripada jalan-jalan yang menyimpang.

Hal itu terjadi ketika kehidupan hati sempurna, hati dijauhkan dari berbagai penyakit yang menggerogoti dan melemahkannya, serta hati bersih dan jiwa senantiasa hidup dengan berdzikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, mempelajari petunjuk-Nya, dan mengamalkannya.

Kehidupan hati memberikan kemampuan kepada seseorang untuk membedakan hal-hal yang bermanfaat dan yang mendatangkan keburukan, baik dalam ilmu yang dipelajari, kehendak dan niat di dalam hati, maupun amal yang dikerjakan.

Semakin kuat kehidupan hati dan semakin bersih jiwa seseorang, semakin ia mendahulukan kebenaran dan meninggalkan keburukan. Keikhlasannya semakin kuat, harapannya untuk meraih wajah Allah semakin besar, dan amal-amal kebaikan serta semangat mengerjakannya semakin tinggi.

Kehidupan hati juga memberikan kekuatan iman, kekuatan kehendak dan niat, kekuatan tujuan dalam beramal, serta kecintaan yang kuat kepada kebenaran. Sebaliknya, seseorang akan memiliki kekuatan untuk membenci dan tidak menyukai kebatilan.

Orang yang mencintai kebenaran akan merasakan kenikmatan ketika mengamalkan ketaatan. Dengan sendirinya, ia membenci penyimpangan dari jalan yang benar dan amal-amal buruk.

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kalian ada Rasulullah. Jika dia menuruti kalian dalam banyak urusan, niscaya kalian akan mendapatkan kesusahan. Akan tetapi, Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian. Allah juga menjadikan kalian benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang benar.” (QS. Al-Hujurat [49]: 7)

Ciri hati yang hidup adalah menyukai amal-amal kebaikan dan merasakannya sebagai perhiasan terindah di dalam hati. Pada saat yang sama, ia sangat membenci kekufuran, kefasikan, dan berbagai kemaksiatan yang melanggar ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Kehidupan hati seperti ini memudahkan seseorang melaksanakan kebaikan dan berlomba-lomba dalam ketaatan. Ia juga berusaha menjauhi keburukan karena keburukan itu dibenci dan tidak disukai oleh hatinya.

Inilah hati yang hidup dengan kehidupan yang sesungguhnya. Maka kemampuan perasaan membedakan antara yang benar dan yang salah, kecintaan kepada kebaikan, serta keberpalingan dari keburukan sesuai dengan kadar kehidupan hati yang dimiliki seseorang.

Di dalam Al-Qur’an, Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan bahwa wahyu diturunkan sebagai roh. Sebagaimana roh menghidupkan badan, wahyu menghidupkan hati.

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu roh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52)

Wahyu disebut roh karena menjadi sebab kehidupan hati. Bahkan, wahyu menghidupkan manusia dengan kehidupan yang hakiki dan menghidupkan jiwanya. Sebelum menerima petunjuk, manusia tidak mengetahui Kitab dan iman. Allah menjadikan petunjuk-Nya sebagai cahaya yang memberikan kehidupan dan penerangan. Tanpa petunjuk agama, hati manusia mati dan jalan yang ditempuhnya gelap.

Dengan ilmu agama, seseorang mendapatkan dua hal sekaligus: kehidupan dan penerangan. Inilah besarnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui petunjuk-Nya yang sempurna dalam agama Islam.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Kehidupan Manusia Lahir dan Batin” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56471-kehidupan-manusia-lahir-dan-batin/